Pertanyaan yang sering ditanyakan saat wawancara kerja tentang dunia HSE
1. Apa itu Keselamatan?
Adalah suatu kondisi untuk menghilangkan atau meminimalkan bahaya, risiko, kecelakaan yang dapat menyebabkan cedera, kerusakan dan kerugian materi atau kerusakan properti dan bahkan kematian. Atau Keselamatan didefinisikan sebagai kondisi yang dapat menghindarkan cedera pada orang termasuk kematian atau kerusakan properti atau lingkungan.
2. Apa itu kecelakaan?
Ini adalah kejadian yang tak terduga atau tak terencana yang mungkin atau mungkin tidak menyebabkan cedera atau kerusakan atau kerugian harta benda atau kematian.
3. Apa Risk atau Risiko?
risiko dari kata risk (bukan resiko) adalah tingkat kemungkinan terjadinya insiden/kecelakaan karena terpapar dari suatu bahaya. risiko ini sudah dapat diukur dan dikelola karena ada 2 faktor yang jadi acuannya yaitu: seberapa sering bahaya itu muncul dan seberapa parah jika terjadi insiden. (kemungkinan x keparahan = risiko)
4. Apa Bahaya?
Semua sumber, situasi ataupun aktivitas yang berpotensi menimbulkan cedera (kecelakaan kerja) dan atau penyakit akibat kerja (PAK) - definisi berdasarkan OHSAS 18001:2007. Secara umum terdapat 5 (lima) faktor bahaya K3 di tempat kerja, antara lain : faktor bahaya biologi(s), faktor bahaya kimia, faktor bahaya fisik/mekanik, faktor bahaya biomekanik serta faktor bahaya sosial-psikologis.
5. Apa insiden?
adalah kejadian tidak terduga, yang dapat terjadi kapan saja, dimana saja, dan dapat menimpa siapa saja sehingga berpotensi membuat cidera atau kerugian lainnya, insiden juga biasa disebut hampir celaka (near miss)
6. Apa itu eksiden
adalah kejadian tak terduga, yang dapat terjadi kapan saja, dimana saja, dan telah menciderai pekerja, kerugian lainnya. Suatu eksiden sudah pasti insiden tapi belum tentu insiden itu suatu eksiden
7. Apakah yang di maksud dengan Kebijakan perusahaan?
Setiap perusahaan memiliki kewajiban sosial dan hukum untuk menyediakan lingkungan kerja yang aman dan kesehatan untuk semua perbaikan untuk semua karyawannya.
8. Apakah audit keselamatan?
Audit keselamatan adalah proses yang mengidentifikasi kondisi tidak aman dan tindakan tidak aman dan merekomendasikan perbaikan keselamatan. Atau lebih lengkapnya Suatu penilaian sitematis untuk menentukan apakah aktivitas dan hasil-hasil yang berhubungan sesuai dengan pengaturan yang telah direncanakan dan apakah pengaturan tersebut diterapkan secara efektif dan sesuai untuk mencapai kebijakan dan tujuan organisasi.
9. Apa tag keselamatan?
Tag keamanan dapat didefinisikan permukaan yang terbuat dari papan kartu atau papan kertas yang bahasa Inggris bahasa lokal surat yang ditulis untuk peringatan petunjuk keselamatan kepada karyawan.
10. Apa sistem ijin kerja?
Sistem izin kerja adalah "dokumen tertulis" izin untuk melakukan pekerjaan berdasarkan wilayah menjadi tanggung jawabnya atau yang dokumen yang dikeluarkan oleh orang yang bertanggung jawab pada area tertentu untuk pekerja yang sedang melakukan pekerjaan tertentu diarea tersebut. Izin Kerja diperlukan khusus untuk pekerjaan non-rutin yang mengandung bahaya/resiko tinggi. Tujuan dari izin kerja ialah unyuk memantau seluruh potensi bahaya dari area/situasi/aktivitas operasional di tempat kerja serta untuk memastikan segala area/situasi/aktivitas pekerjaan berbahaya/beresiko tinggi sudah terdapat pengendalian sehingga aman untuk dilangsungkan perkerjaan bersangkutan.
11. Apa yangdimaksud bekerja di ketinggian?
yang dimaksud dengan bekerja diatas ketinggian asalah Setiap pekerjaan di atas 2 meter dari permukaan tanah.
12. Apa yang dimaksud ruang terbatas (Confined space)?
Suatu daerah yang kecil dan tertutup atau daerah di mana pintu masuk dan keluar Cuma ada satu atau di mana seorang pria tidak dapat bekerja nyaman di lokasi manapun disebabkan ruang terbatas.
13. Apa penggalian (excavation)?
Menandai lubang atau terowongan dengan menggali tanah oleh manusia atau mesin yang disebut penggalian.
14. Apakah perancah (scaffolding)?
Perancah (scaffolding) atau steger merupakan konstruksi pembantu pada pekerjaan bangunan gedung. Perancah dibuat apabila pekerjaan bangunan gedung sudah mencapai ketinggian 2 meter dan tidak dapat dijangkau oleh pekerja. Perancah adalah work platform sementara. Atau Perancah (scaffolding) adalah suatu struktur sementara yang digunakan untuk menyangga manusia dan material dalam konstruksi atau perbaikan gedung dan bangunan-bangunan besar lainnya. Biasanya perancah berbentuk suatu sistem modular dari pipa atau tabung logam, meskipun juga dapat menggunakan bahan-bahan lain. Di beberapa negara Asia seperti RRC dan Indonesia, bambu masih digunakan sebagai perancah.
15. Apa pengelasan?
Proses bergabung logam baik dengan listrik atau dengan gas disebut las.
16. Apakah pemotongan gas?
Proses bergabung pemotongan logam dengan menggunakan oksigen dan gas yang mudah terbakar disebut pemotongan gas.
17. Apa Housekeeping?
Housekeeping berarti tidak hanya bersih tetapi juga susunan teratur operasi, peralatan, fasilitas penyimpanan peralatan dan pemasok. Dapat juga diartikan sebagai kegiatan menjaga, memelihara & merawat kebersihan, kerapihan dan kelengkapan suatu bangunan, baik indoor maupun outdoor, agar selalu tampak bersih, terasa nyaman, hygiene & asri.
18. Apa alat pelindung diri?
APD adalah peralatan yang digunakan untuk melindungi orang dari bahaya debu, kotoran, asap dan percikan api dll Ini adalah penghalang antara bahaya dan orang. Dalam hirarki control APD adalah elemen terakhir untuk mengendalikan bahaya.
19. Apa itu Hirarki control?
Urutan dari tingkat tertinggi sampai terendah untuk mengendalikan bahaya/ hazard. Pemilihan hirarki pengendalian memberikan manfaat secara efektifitas dan efesiensi sehingga resiko menurun dan menjadi resiko yang bisa diterima (acceptable risk) bagi suatu organisasi. Secara efektifitas, hirarki kontrol pertama diyakini memberikan efektifitas yang lebih tinggi dibandingkan hirarki yang kedua. Yaitu Eliminasi (menghilangkan), Subtitusi (mengganti), Enginering (pengendalian tehnik/mekanik), Administratip, dan yang terakhir Alat Pelindung Diri (APD)
20. Apa itu JSA?
Prosedur analisis pekerjaan untuk tujuan khusus untuk menemukan bahaya dan berkembang atau lebih lengkapnya metode untuk mempelajari bagaimana mengidentifikasi bahaya dan potensi kecelakaan yang terkandung dalam suatu pekerjaan pada setiap langkah-langkah tugas, serta pengembangan pemecahan untuk menghilangkan, mengurangi dan mengendalikan bahaya/kecelakaan. JSA biasanya dipergunakan untuk pekerjaan baru yang mempunyai resiko tinggi, frekwensi kecelakaan, pekerja baru. Suatu JSA bias untuk merevisi SOP tapi kalau SOP tidak bias.
21. Apa itu SOP
SOP (Standard Operating Procedures) adalah panduan hasil kerja yang diinginkan serta proses kerja yang harus dilaksanakan. SOP dibuat dan di dokumentasikan secara tertulis yang memuat prosedur (alur proses) kerja secara rinci dan sistematis. Alur kerja (prosedur) tersebut haruslah mudah dipahami dan dapat di implementasikan dengan baik dan konsisten oleh pelaku.
22. Apa itu OHSAS 18001
OHSAS – Occupational Health and Safety Assesment Series-18001 merupakan standar internasional untuk penerapan Sistem Manajemen Kesehatan & Keselamatan Kerja atau biasa disebut Manajemen K3 . Tujuan dari OHSAS 18001 ini sendiri tidak jauh berbeda dengan tujuan Sistem Manajemen K3 Permenaker, yaitu Perlindungan terhadap para pekerja dari hal-hal yang tidak diinginkan yg timbul dari lingkungan kerja ataupun aktifitas pekerjaan itu sendiri yang berdampak terhadap kesehatan dan keselamatan para pekerja serta supaya tidak menimbulkan kerugian besar yg diakibatkan dari kecelakaan kerja yang bisa menjadi menjadikan citra buruk perusahaan dan bisa menurunkan image perusahaan.
23. Apa Inspeksi K3L
Inspeksi adalah sistem yang baik untuk menemukan suatu masalah dan menaksir jumlah risiko sebelum terjadi accident dan kerugian lain yang dapat muncul. (Bird, Frank E. and George L. Germain, 1990) atau bias juga }Inspeksi K3 adalah suatu proses untuk menemukan potensi bahaya yang ada ditempat kerja untuk mencegah terjadinya kerugian maupun kecelakaan di tempat kerja dalam penerapan keselamatan dan kesehatan di tempat kerja.
24. Apa Investigasi kecelakaan?
Investigasi kecelakaan kerja merupakan salah satu upaya untuk mengendalikan dan mencegah kerugian kegiatan produksi yang timbul akibat kecelakaan kerja. Investigasi kecelakaan kerja adalah kegiatan pemeriksaan, penyelidikan kasus kecelakaan kerja yang dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kejadian kecelakaan kerja yang terjadi.
Investigasi kecelakaan dilakukan untuk mengetahui penyebab dari kecelakaan kemudian membuat bagaimana agar kecelakaan yang terjadi dapat dikurangi dan dihilangkan.
25. Apa yang kamu ketahui tentang Teori Segitiga Api?
Teori segitiga api (Fire Triangle) Menurut teori ini, kebakaran terjadi karena adanya 3 faktor yang menjadi unsur api yaitu :
1. Bahan bakar (fuel)
2. Sumber panas (heat)
3. Oksigen
Kebakaran dapat terjadi jika ketiga unsur api tersebut saling bereaksi satu dengan yang lainnya. Jika salah satu unsur tersebut diatas dihilangkan maka tidak terjadi kebakaran.
Berbudaya hidup K3
Senin, 11 Mei 2015
Rabu, 08 April 2015
KONSEP MANAJEMEN
BAHAYA DAN RISIKO
1.1 Latar Belakang
Program Kesehatan Kerja mempunyai tujuan utama
yaitu memberikan perlindungan kepada pekerja dari bahaya kesehatan yang
berhubungan dengan lingkungan kerja dan promosi kesehatan pekerja. Lebih jauh
lagi adalah menciptakan kerja yang tidak saja aman dan sehat, tetapi juga
nyaman serta meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas kerja. Manajemen
risiko kesehatan adalah proses yang bertahap dan berkesinambungan. Tujuan utama
manajemen risiko kesehatan adalah menurunkan risiko pada tahap yang tidak
bermakna sehingga tidak menimbulkan efek buruk terhadap kesehatan pekerja.1
Tujuan tersebut hanya akan tercapai melalui kerja sama antara profesional
kesehatan dan keselamatan kerja yang membantu manajemen dalam mengembangkan dan
mengimplementasikan program kesehatan kerja, dengan pengusaha yang bertanggung
jawab
dalam menjamin
kesehatan dan keselamatan perusahaan pada tingkat yang setinggi tingginya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Bahaya dan Risiko ?
2. Apa saja Bagan Manajemen Risiko ?
3. Apa Teknik Identifikasi Bahaya dan Risiko ?
4. Apa Metode yang Digunakan dalam Mengidentifikasi Bahaya dan Risiko ?
5. Bagaimana Pemantauan Bahaya
Potensial Lingkungan Kerja ?
6. Bagaimana Analisis Derajat Risiko
Bahaya Kerja ?
7. Bagaimana Penilaian Hasil Evaluasi
Bahaya Kerja ?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui Pengertian Bahaya dan Risiko
2. Mengetahui Bagan Manajemen Risiko ?
3. Memahami Teknik Identifikasi Bahaya dan Risiko ?
4. Memahami Metode yang Digunakan dalam Mengidentifikasi Bahaya dan Risiko ?
5. Memahami Pemantauan Bahaya
Potensial Lingkungan Kerja ?
6. Dapat Menganalisis Derajat Risiko
Bahaya Kerja ?
7. Dapat Memberikan Penilaian Hasil Evaluasi
Bahaya Kerja ?
KONSEP MANAJEMEN BAHAYA DAN RISIKO 2
2.1 Konsep
identifikasi dan evaluasi bahaya risiko
2.1.1 Pengertian
bahaya dan risiko
• Risiko : sesuatu yang berpeluang untuk terjadinya kematian, kerusakkan,
atau sakit yang dihasilkan karena bahaya.
• Manajemen Risiko : organisasi yang dapat menerapkan metode
pengendalian risiko apapun sejauh metode tersebut mampu mengidentifikasi,
mengevaluasi, memilih prioritas dan mengendalikan risiko dengan melakukan
pendekatan jangka pendek dan jangka panjang.
Identifikasi bahaya dan risiko merupakan langkah awal dan
penting dalam penerapan K3. Dengan melakukan identifikasi bahaya dan risiko
ditempat kerja akan membantu dalam menyusun dan mengembangkan program K3 yang
diperlukan hal-hal yang harus diperhatikan adalah:
1. Jenis
pekerjaan
2. Bahan-bahan
yang digunakan
3. Mesin
dan peralatan yang digunakan
4. Jumlah
pekerja
5. Karakteristik
bangunan dan gedung
6. Cara
dan pola kerja
Tujuan Identifikasi Bahaya dan Risiko
1.
Untuk mengetahui jenis bahaya dan risiko
2.
Untuk mengetahui sumber bahaya dan risiko
3.
Untuk mengetahui pekerja yang terpajan
bahaya dan risiko
4.
Untuk mengetahui besaran bahaya dan tingkat
risiko
5.
Untuk mengetahui pengendalian yang sudah
dilakukan
6.
Untuk mengetahui program yang diperlukan
2.1.2 BAGAN MANAJEMEN RISIKO
a. Identifikasi
Bahaya
1 Pertimbangan :
v Kondisi dan kejadian yang dapat menimbulkan
bahaya
v Jenis kecelakaan yang mungkin dapat terjadi
2 Aktifitas yang
digunakan dalam idenifikasi bahaya:
ü Konsultasi dengan pekerja
ü Konsultasi dengan tim K3
ü Melakukan pertimbangan
ü Melakukan savety audit
ü Melakukan pengujian
ü Evaluasi Teknis dan keilmuan
ü Analisis rekaman data
ü Mengumpulkan informasi dari desaigner,
konsumen. Supplier dan organisasi
ü Pemantauan lingkungan dan kesehatan
ü Melakukan survey terhadap karyawan
* Tiga pertanyaan dasar untuk identifikasi bahaya :
1. Apakah ada suatu sumber celaka / bahaya ?
2. Siapa / Apa yang dapat celaka ?
3. Bagaimana dapat terjadi ?
CARA MELAKUKAN IDENTIFIKASI BAHAYA
* Mengidentifikasi seluruh proses/area yang ada dalam
segala kegiatan.
*Mengidentifikasi sebanyak mungkin aspek K-3 pada setiap
proses/area yg telah diidentifikasi sebelumnya.
* Identifikasi K-3 dilakukan pada suatu proses kerja baik
pada kondisi NORMAL , ABNORMAL ,
EMERGENCY dan MAINTENANCE
KATEGORI BESARNYA BAHAYA
* Untuk membantu proses identifikasi bahaya dapat
dikatagorikan, sbb:
1. Mechanical
2. Electrical
3. Radiation
4. Chemical
5. Fire and explosion
DAFTAR POTENSI BAHAYA
* Terpleset / Jatuh
* Jatuh dari ketinggian
* Kejatuhan benda asing
* Ruang untuk kepala yang kurang
* Bahaya dari Mesin
* Bahaya dari Kendaraan
* Kebakaran & Ledakan
* Zat yang terhirup
* Zat yg mencederai Mata
* Zat yg melukai kulit
* Bahaya listrik
* Radiasi
* Getaran
* Bising
* Pencahayaan
* Lingkungan terlalu Panas
* Kegiatan Kontraktor
* Huru hara
MENILAI
RISIKO DAN SELEKSI PRIORITAS
Pengertian : Merupakan proses untuk menentukan prioritas
pengendalian terhadap tingkat risiko kecelakaan akibat kerja. Tujuannya,
menentukan prioritas untuk tindak lanjut karena tidak semua aspek bahaya
potensial dapat ditindak lanjuti.
Sasaran penilaian risiko adalah: mengidentifikasi bahaya
sehingga tindakan dapat diambil untuk menghilangkan, mengurangi atau
mengendalikanya sebelum terjadi kecelakaan atau cidera atau kerusakan.
2.1 Metode
Penilaian Risiko
1.
Untuk setiap risiko :
-
Menghitung setiap insiden
-
Menghitung konsekuensi
-
Kombinasi penghitungan keduannya
2.
Menggunakan rating
setiap resiko, mengembangkan daftar prioritas risiko kerja.
2.1 Menentukan
Peluang besarnya
risiko
Faktor
yang mempengaruhi terjadinya peluang sebuah insiden :
·
Frekuensi situasi
terjadinya
·
Berapa orang yang
terpapar
·
Keterampilan dan
pengalaman orang yang terkena
·
Karakteristik yang
terlibat
·
Durasi paparan
·
Pengaruh posisi
terhadap bahaya
·
Distraksi
·
Jumlah material atau
tingkat paparan
·
Kondisi lingkungan
·
Kondisi peralatan
·
Efektivitas
pengendalian yang ada
2.3 Menentukan Konsekuensi
Faktor
yang mempengaruhi konsekuensi :
v Potensi pada reaksi berantai
v Konsentrasi substansi
v Volume material
v Kecepatan proyektil dan pergerakkan bagiannya
v Ketinggian benda
v Jarak pekerja dari bahaya potensial
v Berat pekerja
v Tingkat gaya dan energi
2.4Metode Pengendalian
Risiko
1.
Pengendalian
teknis/rekayasa yang meliputi eliminasi, subtitusi, isolasi, ventilasi, higiene
dan sanitasi
2.
Pendidikan dan
pelatihan
3.
Pembangunan kesadaran
motivasi
4.
Evaluasi melalui
internal audit
5.
Penegakan hukum
2.5 Hirarki pengendalian risiko
2.6 PENERAPAN
LANGKAH PENGENDALIAN
Tahapan – Tahapan
Pengendalian
1.
Mengembangkan Prosedur
Kerja
Tujuannya,
sebagai alat pengatur dan pengawas terhadap bentuk pengendalian bahaya yang
kita pilih.
2.
Komunikasi
Menginformasikan
pada pekerja tentang penggunaan alat pengendali bahaya dan alasan
penggunaannya.
3.
Menyediakan Pelatihan
Agar
pekerja dan personel lainnya lebih mengenal alat pengendali yang diterapkan
4.
Pengawasan
Memastikan
alat pengendali bahaya potensial digunakan secara benar.
2.7 MONITOR
dan TINJAUAN
ü Pemantauan dan tinjauan risiko merupakan
langkah terakhir dalam proses ini dan harus dilakukan pada interval waktu
sesuai dengan yang ditetapkan dalam organisasi.
ü Untuk menentukan periode monitoring dan
tinjauan risiko tergantung pada :
1.
Sifat dari bahaya
2.
Magnitude risiko
3.
Perubahan Operasi
4.
Perubahan dari metode kerja
5.
Perubahan peraturan dan organisasi.
2.8 KUNCI MENGIDENTIFIKASI RISIKO
* Kapan, kenapa, dimana, bagaimana kemungkinan terjadinya
risiko & siapa tenaga yang dilibatkan.
* Apakah Sumber & akibat masing - masing risiko ?
* Apakah banyak waktu yg terbuang, biaya dan gangguan
pemakai masing - masing risik ?
* Apakah pengawasan yang ada dapat mengurangi risiko ?
* Apakah dibutuhkan penelitian mendalam pada risiko
tertentu ?
* Apakah lingkup penelitian ?
* Apakah sumber yang dibutuhkan untuk melaksanakan
penelitian ?
* Apakah informasi yang diperoleh dapat dipercaya ?
2.1.2 Evaluasi Bahaya dan Risiko
Evaluasi risiko dilakukan sebagai tindak lanjut dari
proses analisis risiko untuk memutuskan tindakan selanjutnya (Pengendalian
Risiko)
�� Tindak lanjut dapat berupa:
�� Apakah risiko yang ada memerlukan
pengendalian.
�� Tindakan apa saja yang harus
dilakukan.
�� Prioritas risiko yang akan
dikendalikan.
�� Nilai risiko yang diperoleh dari
hasil analisis dibandingkan
dengan kriteria yang ditetapkan tentang batasan risiko
yang bisaditolerir dan tidak.
1.
Tujuan Evaluasi Bahaya dan Risiko
·
Untuk mengetahui level dan prioritas bahaya
dan risiko di tempat kerja
·
Mengetahui tindakan pengendalian/program K3
yang diperlukan
·
The purpose of risk evaluation is to make
decisions, based
on the outcomes of risk analysis, about which risks need treatment
and treatment priorities.
Dalam melakukan evaluasi terhadap bahaya dan risiko
diperlukan kriteria untuk menentukan prioritasTingkat risiko yang bisa di
terima (tolerable risk) merupakan salah satu kriteria yang umum digunakan dalam
mengevaluasi bahaya dan risiko
2.2 Metode
Identifikasi Bahaya dan Risiko
Identifikasi bahaya dan risiko merupakan
langkah awal dan penting dalam penerapan K3. Dengan melakukan identifikasi
bahaya dan risiko di tempat kerja akan membantu dalam menyusun danmengembangkan
program K3 yang diperlukan. Hal-hal uang perlu diperhatikan
dalam mengidentifikasi bahya dan risiko dalam pekerjaan, antara lain:
�� Jenis pekerjaan
�� Bahan-bahan yang digunakan
�� Mesin dan peralatan yang digunakan
�� Jumlah pekerja
�� Karakteristik bangunan dan gedung
�� Cara dan pola kerja
Adapun tujuan identifikasi bahaya dan risiko ialah :
�� Untuk mengetahui jenis bahaya dan
risiko
�� Untuk mengetahui sumber bahaya dan
risiko
�� Untuk mengetahui pekerja yang
terpajan bahaya dan
risiko
�� Untuk mengetahui besaran bahaya dan
tingkat risiko
�� Untuk mengetahui pengendalian yang
sudah dilakukan
�� Untuk mengetahui program yang
diperlukan
Proses identifikasi bahaya dan penilaian resiko harus mempertimbangkan:
• Aktifitas rutin dan non rutin
• Aktifitas dari semua indifidu yang memilii akses ke
tempat kerja termasuk kontraktor
• Perilaku masnusia,kemampuan dan factor manusia lainya
• Perilaku masnusia,kemampuan dan factor manusia lainya
• Identifikasi semua bahaya yang berasal dari luar tempat
kerja yang dapat menimbulkan efek terhadap kesehatan dan keselematan manusia
yang berada dalam perlindungan organisasi di dalam tempat kerja
• Bahaya yang timbul di sekitar tempat kerja
dariaktifitas yang berkaitan dengan pekerja yang berada di bawah kendali
organisasi
Instruktur,peralatan dan material di tempat kerja ,apakah yang di sediakan organisasi atau pihak lain
Instruktur,peralatan dan material di tempat kerja ,apakah yang di sediakan organisasi atau pihak lain
• Perubahan atau rencana perubahandalam kegiatan
organisasi,kegiatanya atau material
• Modifikasi pada system manajeman K3,termasuk perubahan sementara dan dampaknya terhadap organisasi,proses dan aktifitas
• Modifikasi pada system manajeman K3,termasuk perubahan sementara dan dampaknya terhadap organisasi,proses dan aktifitas
• Setiap persyaratan legal yang dapat di berlakuakan
berkaitan dengan penegendalaian resiko dan implementasi dari penegendalaian
yang di perlukan
• Rancanagan dari lingkungan
kerja,proses,instalasi,permesianan/peralatan,prosedur operasi dan
organisasi kerja,termasuk adaptasi terhadap kemampuan manusia
2.2.1 Teknik identifikasi bahaya dan risiko
Banyak teknik identifikasi yang salah
satunya dapat dipilih sebagai yang paling efektif di organisasi tertentu atau
yang dapat menyediakan informasi yang dibutuhkan dalam proses tertentu. Teknik-teknik
tersebut meliputi :
a.
Survei keselamatan kerja
· Kadang
dinamakan inspeksi keselamatan kerja
· Inspeksi
umum terhadap seluruh area kerja
· Cendrung
kurang rinci dibanding teknik-teknik lainnya
· Memberikan
gambaran yang menyeluruh tentang keadaan pencegahan kecelakaan di seluruh area
kerja tertentu
b.
Patroli Keselamatan Kerja
· Inspeksi
terbatas pada rute yang ditentukan terlebih dahulu
· Perlu
merencanakan rute berikutnya untuk memastikan cakupan menyeluruh atas area
kerja
· Mempersingkat
waktu setiap inspeksi
c.
Pengambilan Sampel
Keselamatan Kerja
· Melihat
pada satu aspek kesehatan atau keselamatan kerja saja
· Fokuskan
perhatian untuk mengerjakan identifikasi lebih rinci
· Perlu
merencanakan serangkaian pengambilan sampel untuk mencakup seluruh aspek
kesehatan dan keselamatan kerja
d.
Audit Keselamatan Kerja
· Inspeksi
tempat kerja dengan teliti
· Lakukan
pencarian untuk mengidentifikasi seluruh jenis bahaya
· Jumlah
seluruh jenis bahaya yang teridentifikasi harus dicatat
· Dapat
dikembangkan menjadi system peringkat untuk mengukur derajat ‘kesehatan dan
keselamatan kerja’ di perusahaaan
· Audit
ulang perlu dilaksanakan untuk menilai perbaikan-perbaikan apa saja yang sudah
dilakukan
· Bisa
menyita waktu
e.
Pemeriksaan Lingkungan
· Dilakukan berdasarkan
pengukuran kosentrasi zat-zat kimia diatmosfer
· Dapat
mengidentifikasi kemungkinan bahaya terhadap kesehatan di tempat kerja
· Mencatat
pembacaan secara berturut-turut dapat menunjukkan peningkatan atau kebalikannya
· Pemeriksaan
dengan ‘sampel kasar’ sangat tidak akurat dan bisa sangat mahal
· Instrumen
elektronik memang mahal namun memberikan pembacaan tepat dan akurat
· Insrtumen
elektronik dapat digunakan terus menerus dalam jangka waktu panjang
f.
Laporan Kecelakaan
· Dibuat
setelah kecelakaan
· Kecelakaan
kecil perlu dicatat dan juga kerugian berupa kehilangan waktu
· Informasi
yang diperoleh dari laporan kecelakaan
· Laporan
harus dapat mengidentifikasi tindakan pencegaha yang perlu dilakukan
g.
Laporan Kecelakaan yang Nyaris Terjadi
· Laporan
insiden-insiden dalam keadaan yang sedikit berbeda data menyebabkan
kecelakaan
· Memerlukan
budaya keselamatan kerja yang tepat agarefektif
h.
Masukan dari Para Karyawan
· Secara
formal dapat diperoleh melalui komite keselamatan keja
· Membutuhkan
budaya ‘tidak saling menyalahkan’ untuk memberanikan pekerja melaporkan masalah
· Para
pekerja sering lebih mengetahui dan dapat menyampaikan apa yang perlu dilakukan
· Perlu
umpan balik ke pekerja dalam bentuk tindakan untuk mempertahankan redibilitas
manajemen
Pemilihan metode yang digunakan bergantung
pada jenis dan besarnya potensi kerugian yang mungkin terjadi bila
metode tersebut dilaksanakan. Penggunaan metode identifikasi yang
membutuhkan waktu dan biaya yang besar biasanya digunakan untuk bahaya yang berisiko
tinggi. Perbedaan tingkat konsekuensi dan probabiliti suatu risiko
akan memerlukan metode yang berbeda. Untuk mengetahui besaran bahaya dan risiko
tertentu diperlukan pengukuran dengan menggunakan alat ukur
menurut jenis bahaya dan risiko yang ada.
Contoh:
�� Tingkat kebisingan, getaran, radiasi,
pencahayaan, temperatur
�� Konsentrasi gas/uap kimia di udara
lingkungan kerja
2.2.2 Metode yang digunakan
dalam mengidentifikasi bahaya dan risiko:
v Metode
proaktif
Metoda terbaik untuk mengidentifikasi bahaya adalah cara
proaktif, atau mencari bahaya sebelum
bahaya tersebut menimbulkan akibat atau dampak yang merugikan.
Tindakan proaktif memiliki kelebihan:
Tindakan proaktif memiliki kelebihan:
• Bersifat preventif karena bahaya di kendalikan sebelum
menimbulkan kecelakaan atau cedera
• Bersifat peningkatan berkelanjutan(continual improvement) karena dengan mengenal bahaya dapat di lakukan upaya perbaikan
• Bersifat peningkatan berkelanjutan(continual improvement) karena dengan mengenal bahaya dapat di lakukan upaya perbaikan
• Meningkatkan “awareness” semua pekerja setelah
mengetahui dana mengenal adanya bahaya di sekitar tempat kerjanya,dan
• Mencegah pemborosan yang tidak diinginkan, karena
adanya bahaya dapat menimbulkan kerugian.misalanya ada katub yang bocor tanpa
di ketahui maka akan terus menerus mengeluarkan bahan /bocoran sehinggga dapat
mrnimbulkan kerugian.
Terdapat berbagai teknik identifikasi bahaya yang
bersifat proaktif anatara lain:
• Data kejadian
• Data kejadian
• Daftar periksa
• Brainstorming
• What is analysis
• Hazops(Hazard and Operability Study)
• Analisa Moda Kegagalan dan Efek(Falure Mode and Effect
Analysis)
• Task Analysis
• Event Tree Analysis
• Analisa Pohon Kegagalan(faul Tree Analysis)
• Analisa Keselamatan Pekerja(Job Safety Analysis)
Masih banyak teknik lainya yang di kembangkan oleh para
ahli K3.Berbagai teknik ini dapat di terapkan sepanjang daur hidup organisasi
mulai dari tahap pengembangan sampai ke operasi
v Metode
semi proaktif
Teknik ini di sebut juga teknik belajar dari pengalaman
orang lain karena kita tidak perlumengalaminya sendiri.Teknik ini lebih baik
karena tidak perlu mengalami sendiri setelah itu baru mengetahui adanya bahaya.
Namun tekni ini juga kurang efektif karena:
• Tidak semua bahaya telah di ketahui atau pernah
menimbulkan dampak kejadian kecelakaan
• Tidak semua kejadian di laporkan atau di informasikan
kepada pihak lain untuk di ambil sebagai bahan pelajaaran
• Kecelakaaan telah terjadi yang berarti tetap
menimbulkan kerugian, walaupun menimpa pihak lain
Sejalan dengan hal ini, OHSAS 18001 mensyratkan untuk
melakukan penyelidikan kecelakaan sebagai Lesson Learning agar kejadian serupa
tidak telung kembali.Akan tetapi, masih ada aggapan bahwa kecelakaan merupakan
aib bagi perusahaan, sehinggga data-data dan informasi tentang kejadian sulit
di peroleh.Jika di ekspose.Mungkin kejadianya sudah di poles sedemikan rupa
sehinga tidak sesuai lagi dengan fakta kejadian sebenarnya.
2.3 Metode Evaluasi Bahaya dan Risiko
Evaluasi bahaya kerja adalah suatu proses
yang dilaksanakan untuk dapat menetapkan seberapa besar risiko bahaya kerja
yang ditemukan di tempat kerja. Pengukuran objektif dosis bahaya kerja yang diterima
oleh pekerja merupakan komponan penting pada manajemen evaluasi bahaya kerja.
Akan tetapi sebaiknya pada awal tahap ini, tindakan pengendalian pada bahaya
kerja serius , yang ditemukan pada tahap identifikasi bahaya kerja, sudah harus
dilaksanakan tanpa menunggu hasil pengukuran yang objektif.
Evaluasi dan pengelolaan risiko adalah
langkah lebih lanjut dari proses manajemen risiko. Dimana tahapan manajemen
risiko sesungguhnya mulai dari identifikasi risiko yang terdiri dari pembuatan
daftar kategorisasi risiko,lalu mendeskripsikan risiko.
Berdasarkan hasil pengukuran objektif yang telah
disimpulkan, pada tahap berikutnya dapat diperkirakan akibat yang ditimbulkan
oleh bahaya kerja yang ditemukan, besarnya kemungkinan dan frekuensi terjadinya
ganguan kesehatan.kecelakaan kerja, serta derajat pajanan bahaya kerja yang
terjadi.
Selanjutnya adalah pengelolaan risiko yang terdiri dari
estimasi awal risiko, yaitu mempertimbangkan akibat yang mungkin terjadi bila
risiko terjadi dengan menggunakan system scoring misalnya cara NHS. Kemudian
evaluasi terhadap risiko yang telah diestimasi dengan toleransi skor
risiko yang disarankan oleh NHS adalah 6. Bila skornya lebih besar dari 6
mitigation cukup dimasukkan kedalam daftar risiko saja. Namun bila skor risiko
kurang dari 6 selain dimasukkan dalam daftar juga harus dibuatkan rencana
tindak lanjutnya.
Langkah berikutnya memutuskan tindakan untuk mengelola
risiko. Dengan cara memilih dan menerapkan kegiatan yang sesuai lalu mengontrol
atau memodifikasi risiko. Pilihan kegiatannya dapat berupa: mengambil
kesempatan untuk kondisi ada kemungkinan keuntungan lebih besar dibanding
kerugiannya, mentoleransi risiko secukupnya dalam level yang masih dapat
ditoleransi, mentransfer risiko kepada pihak ketiga seperti asuransi atau yang
terakhir bisa dengan menghentikan aktivitas yang menimbulkan risiko.
Eskalasi risiko terjadi bila pada proses mendefinisian
dan memasukkan kedalam register membuat terjadinya perubahan level risiko. Hal
ini akan menekan manajemen untuk mengambil tindakan yang memungkinkan,
diantaranya; menerima risiko apa adanya, merubah atau memodifikasi risiko atau
menolak eskalasi risiko.
Beberapa kejadian yang mungkin menjadi risiko dalam
kegiatan sehari-hari dirumah sakit adalah adverse event dan risiko klinis.
Adverse incident adalah kejadian atau kondisi yang dapat membawa kerugian yang
tidak disengaja dan tidak diharapkan pada orang, property atau organisasi.
Risiko klinis adalah kejadian yang tidak pasti atau sekelompok kejadian yang
bila itu terjadi akan memberikan efek negative kepada layanan pasien.
2.3.1 Pemantauan Bahaya
Potensial Lingkungan Kerja
Tiga langkah utama dalam pemantauan bahaya
lingkungan kerja terhadap kesehatan seorang pekerja yaitu :
1. Pengenalan
atau penemuan bahaya/masalah potensial di lingkungan kerja.
2. Evaluasi
dari faktor-faktor bahaya potensial di lingkungan kerja.
3. Pengendalian/Penanggulangan
dari bahaya/masalah potensial yang ada.
Dari ketiga langkah tersebut perlu
dilaksanakan secara berurutan dan kontinu (berkelanjutan). Berikut
penjelasannya :
1. Pengenalan/penemuan
bahaya potensial di lingkungan kerja
Pengenalan dari berbagai
bahaya potensial dan risiko kesehatan di lingkungan kerja biasanya dilakukan
pada waktu survey pendahuluan dengan cara melihat atau mengobservasi dan
mengenal (walk through survey) yang merupakan langkah awal yang harus
dilakukan dalam upaya kesehatan lingkungan kerja. Pada waktu survey
pendahuluan, beberapa masalah yang mudah dikenali biasanya masalah bahaya
potensial fisik seperti kebisingan, bau, suhu, getaran, sedangkan bahaya
potensial seperti zat kimia, radiasi, gas dan bahaya potensial biologi sulit
untuk dikenali.
Sebelum dilakukan survey pendahuluan
hendaknya diupayakan mendapat informasi mengenai segala sesuatu keterangan yang
menggambarkan bahan baku, bahan tambahan, proses produksi, hasil antara, hasil
akhir dan hasil sampingan berupa limbah, jalur pengangkutan, cara kerja,
peralatan kerja, dan data pekerja meliputi jumlah dan status kesehatan.
Disamping itu, perlu dipertimbangkan
zat-zat kimia/gas yang kemungkinan dapat terbentuk pada proses produksi serta
efek yang kemungkinan akan terjadi akibat pengaruh dari bahaya potensial
terhadap kesehatan pekerja.
2. Evaluasi dari
faktor-faktor bahaya potensial pada lingkungan kerja
Merupakan tahap penilaian karakteristik dan
besarnya potensi bahaya yang mungkin dapat ditimbulkan dari lingkungan kerja.
Olehnya itu, kegiatan evaluasi ini dapat digunakan untuk menentukan prioritas
dalam mengatasi permasalahan yang dapat timbul.
Kegiatan evaluasi terhadap tingkat
pemajanan dan bahaya potensial di lingkungan kerja dilakukan melalui pengamatan
langsung yang ditentukan secara kualitatif dan kuantitatif melalui berbagai
teknik pengukuran, misalnya pengukuran tingkat kebisingan, penentuan indeks
tekanan panas, kuat cahaya, analisis patikel udara di tempat kerja, dll. Hasil
yg diperoleh kemudian dibandingkan dengan aturan yang berlaku yaitu Nilai
Ambang Batas (NAB).
3. Pengendalian
Bahaya Potensial di Lingkungan Kerja
Kegiatan pengendalian lingkungan kerja
merupakan uapaya untuk mengurangi atau menghilangkan pajanan terhadap
zat/bahaya yang berbahaya di lingkungan kerja. Hal ini bisa dijelaskan dengan
Teori Simpul Pengamatan/Pengendalian oleh Prof.dr. Umar Fahmi Achmadi,Ph.D
yaitu :
o ———– o ———— o ———— o
A
B
C
D
SIMPUL A = Sumber potensi bahaya
SIMPUL B = Zat berbahaya berada di
lingkungan
SIMPUL C = Zat mulai masuk tubuh
SIMPUL D = Zat mulai mempengaruhi kesehatan
manusia dengan kemungkinan :
1.
Tidak Menyebabkan gangguan kesehatan
2.
Menimbulkan gangguan Kesehatan dengan
kemungkinan individu jelas sakit atau Gejalanya Samar-samar/subklinis.
Simpul – Simpul diatas merupakan simpul
pengamatan sekaligus merupakan simpul pengendalian, misalnya :
1. Pada
Simpul A, tindakan yang perlu dilakukan, idealnya adalah menghilangkan sumber,
bila tak mungkin dengan cara substitusi bahan yang kurang berbahaya.
2. Pada
Simpul B, misalnya uap berbahaya yang berada di ruangan dihilangkan dengan
jalan menghisap keluar (exhauster ventilation) / menggunakan ventilasi yg baik.
3. Pada
Simpul C yakni pada saat akan memasuki tubuh manusia, misalnya dapat dicegah
dengan pakaian pelindung/alat pelindung diri.
4. Pada
Simpul D, bila zat yang berbahaya terlanjur masuk tubuh maka dilakukan Bio
marker (Penanda biologis, misalnya : darah, urine, dsb) untuk monitoring dengan
standart NAB, kalau perlu dengan pemberian antagonisnya.
Pengendalian pada Simpul
A dan Simpul B adalah PENGENDALIAN LINGKUNGAN, Sedangkan Pengendalian Pada
Simpul C dan Simpul D merupakan PENGENDALIAN PERORANGAN.
Upaya-Upaya yang dapat dilakukan dalam
Pengendalian Lingkungan Kerja yaitu :
1. Desain
dan tata letak yg adekuat (konstruksi bangunan dan tata letak
peralatan/material yang baik dan sesuai) sehingga pekerja dpt bekerja efisien
& efektif serta dapat memberikan perlindungan yang optimal dan tidak
menimbulkan gangguan kesehatan bagi pekerja.
2. Penghilangan
atau pengurangan bahan berbahaya pada sumbernya, antara lain : penghentian
proses, substitusi, isolasi, ventilasi, metode basah dan tata kerumahtanggaan
yang baik
Upaya-Upaya yang dapat dilakukan dalam
Pengendalian Perorangan yaitu Melalui peningkatan pengetahuan, sikap dan
perilaku serta disiplin kerja para pekerja dengan :
1. Cara
kerja yang baik dan benar.
2. Tersedianya
Alat Pelindung Diri dan ketaatan dalam pemakaiannya.
3. Pembatasan
waktu pajanan (Jam Kerja, Cuti, dll)
4. Kebersihan
perorangan.
5. Pemeriksaan
kesehatan sebelum bekerja dan secara berkala untuk penemuan dini gangguan
kesehatan.
6. Penerapan
prinsip K3 dan ergonomi.
Selain pengendalian Lingkungan dan
Perorangan, maka dalam menghadapi bahaya yang timbul ditempat kerja perlu
diadakan Program Pelayanan Kesehatan kerja yang meliputi Pelayanan Promotif,
Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif.
2.3.2 Analisis Derajat Risiko Bahaya Kerja
Agar dapat mendahulukan pengendalian bahaya kerja yang
dapat berakibat paling buruk atau bahaya kerja yang paling sering terjadi,
tahap evaluasi bahaya kerja selanjutnya adalah menganalisis derajat risiko
bahaya kerja untuk menentukan beratnya risiko dan besarnya kemungkinan bahaya
kerja yang mungkin terjadi.
1. Klasisfikasi
berat risiko bahaya kerja yang terjadi:
a. Sangat
berat (catastrophic) – dapat mengakibatkan kematian atau khancuran seluruh
property berserta fasilitas yang ada di dalamnya.
b. Berat
(critical) – dapat mengakibatkan ganguan kesehtan akibat kerja yang berat atau
kerusakan property dalam skala besar.
c. Sedang
(marginal) – dapat mengakibatkan gangguan kesehatan akibat kerja yang ringan,
biasanya mengakibatkan pekerja tidak dapat masuk kerja untuk beberapa hari,
atau kerusakan property dalam skala kecil.
d. Ringan
(negligible) – kemungkinan tidak berpengaruh dalam kesehatan dan keselamatan
pekerja, tetapi jalas dalam kondisi yang menyalahi syarat-syarat kesehatan
kerja yang baik.
2. Klasifikasi
kemungkinan dan frekuensi risiko terjadinya bahaya kerja.
a. Kemungkinan
terjadi dalam waktu yang sangat pendek setelah terpajan pada suatu bahaya
kerja.
b. Kemungkinan
besar akan terjadi pada suatu waktu
c. Ada
kemungkinan untuk terjadi apda suatu waktu.
d. Sangat
tidak mungkin terajadi.
2.3.3 Penilaian Hasil Evaluasi Bahaya Kerja
Penilaian hasil evauasi bahaya kerja merupakan hasil
rangkuman peninjauan semua factor yang mengakibatkan bahaya kerja pada
manusia.penilaian ini akan memberikan fakta dan kemungkinan ayang relevan
sehingga, memudahakan penetapan langkah berikutnya dalam pengendalian risiko
bahaya kerja.
Dengan mempertimbangan criteria risiko masing-masing
bahaya kerja, dapat ditetapkan prioritas risiko bahya kerja sebagai berikut:
1. Risiko
ringan: kemungkinannya kecil untuk terjadi serta akibat yang ditimbulkannya
ringan maka bahaya kerja ini dapat diabaikan.
2. Risiko
sedang: kemungkinannya kecil untuk terjadi akan tetapi akibat yang
ditimbulkannya cukp berat, atau sebaliknya, maka perlu pelaksanaan manajemen
risiko khusus.
3. Risiko
berat: sangat mungkin terjadi dan akan berakibat sangat buruk, maka harus
dilaksanakan penganggulangan sesegara mungkin.
BAB III
KONSEP MANAJEMEN BAHAYA DAN RISIKO 2
3.1 Kesimpulan
Manajemen
Resiko Merupakan kegiatan manajemen yang dilakukan pada tingkatan, tingkat
pimpinan pelaksana . yaitu kegiatan penemuan dan analisis sistimatis
atas kerugian kerugian yang mungkin dihadapi oleh badan usaha,akibat suatu
resiko serta metode yang paling tepatuntuk menaggani kerugian tersebut yang dihubungkan
dengan tingkat profitabilitas badan usaha. Analisa Risiko/Risk
Analysis merupakan kegiatan
analisa suatu risiko dengan cara menentukan besarnya kemungkinan/probability
dan tingkat keparahan dari akibat/consequences suatu risiko. Penilaian
Risiko/Risk Assessment adalah penilaian
suatu risiko dengan cara membandingkannya terhadap tingkat atau karena risiko
yang telah ditetapkan. Manajemen Risiko merupakan penerapan secara sistematis dari kebijakan
manajemen, prosedur dan akitivitas dalam kegiatan identifikasi bahaya, analisa,
penilaian, penanganan dan pemantauan serta review risiko.
3.2 Saran
Manajemen risiko dan bencana berguna untuk mengambil
keputusan dalam menangani masalah-masalah yang rumit, sehingga ada baiknya kita menggunakan
konsep ini, agar masalah-masalah yang datang dan yang akan datang dapat kita
atasi, sesuai dengan konsep yang telah ada.
Langganan:
Postingan (Atom)